Rektor Unsyiah Mengukuhkan Profesor Pertama dari Informatika



Universitas Syiah Kuala kembali mengukuhkan tiga Profesor baru melalui Sidang Senat Terbuka yang dipimpin oleh Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng IPU di gedung AAC Dayan Dawood. Ketiga profesor baru yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M. Eng, Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin, S.Si., M. Tech, dan Prof. Dr. Fitri Arnia, S.T., M. Eng. Sc. (Banda Aceh, 26/2/2020).

Menariknya, salah satu di antara tiga professor tersebut berasal dari Jurusan Informatika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dan juga merupakan profesor pertama bidang Ilmu Komputer (Informatika) Universitas Syiah Kuala. Prof. Taufik Fuadi Abidin memaparkan dan mempresentasikan orasi ilmiahnya dengan judul Pemanfaatan Mechine Learning dan Teknologi Big Data dalam Proses Penambangan Informasi. Sedangkan kedua profesor yang lain juga merupakan bagian dan keluarga besar dari Jurusan Informatika karena sampai sekarang Prof. Khairul Munadi dan Prof. Fitri Arnia mengajar mata kuliah Pengolahan Citra di Jurusan Informatika dan melakukan kolaborasi riset dengan staf dan peneliti dari Jurusan Informatika.

Dalam sambutannya, Rektor Unsyiah menyampaikan bahwa setelah pengukuhan ini nanti total profesor di Unsyiah sekarang menjadi 76 orang. Bila dibandingkan dengan jumlah dosen di lingkungan Unsyiah, jumlah profesor sekarang ini hanya 4,8% dari total dosen di Unsyiah.

Namun, Rektor sangat mensyukur rahmat ini karena peningkatan jumlah profesor Unsyiah dalam kurun waktu setahun terakhir ini cukup membahagiakan. Pada periode tahun lalu, jumlah profesor Unsyiah hanya mencapai 58 orang saja. Bila dibandingkan dengan sekarang berarti dalam 3 setahun telah terjadi pertumbuhan sebanyak 31%.

“Setelah hari ini, beberapa profesor baru sudah kembali menunggu untuk dikukuhkan dalam waktu dekat. Sementara itu, beberapa calon profesor lainnya sedang melengkapi persyaratan atau bahkan sedang menunggu keputusan dari Jakarta,” ucap Rektor.

Selanjutnya, Rektor Unsyiah juga menilai kepakaran dan keahlian dari ketiga Profesor ini sangat penting. Sebagai contoh, Prof. Khairul Munadi yang bidang risetnya tentang pencitraan termal, yang merupakan metode pengamatan terhadap suatu objek melalui sensor termal, atau kamera termal, tanpa menyentuh objek yang diamati. Ide utama dari Prof. Khairul Munadi adalah merancang dan membangun perangkat cerdas (smart device) dengan mengintegrasikan teknik thermography dan Deep Learning untuk mendeteksi dini penyakit, yang simtomanya terkait dengan perubahan suhu tubuh manusia. Gagasan ini bisa sangat cukup potensial menjadi solusi alternatif untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus Corona.

“Target riset ini adalah menghasilkan perangkat deteksi dini, untuk penyakit kronis berbahaya dengan akurasi yang tinggi. Maka temuan ini diharapkan dapat diaplikasikan untuk membantu paramedis, atau individu untuk melakukan pengecekan penyakit secara mandiri,” ucap Rektor.

Begitu pula kepakaran Prof. Taufik Fuadi Abidin, yang risetnya mengenai pemanfaatan  machine learning dan teknologi big data. Teknologi ini sudah pernah diuji dalam proses penentuan halaman web dengan cepat dan akurat untuk halaman web yang jumlahnya besar mencapai miliaran halaman.

Prof. Taufik Fuadi Abidin bahkan telah berhasil mengembangkan web classifier, yang dapat dimanfaatkan untuk menentukan secara cepat dan akurat halaman web tentang penyakit tropis menggunakan algoritma machine learning Support Vector Machine.

Salah satu kontribusi kepakaran Prof. Taufik  di bidang machine learning, yang secara langsung diaplikasikan di Unsyiah yaitu penentuan kategori Uang Kuliah Tunggal Berkeadilan (UKTB) mahasiswa, yang sesungguhnya adalah masalah klasifikasi atau supervised machine learning problem.

Seiring perkembangan dan kebutuhan era, kajian serta pemanfaatan machine learning dan big data akan berkembang sangat cepat di masa mendatang, karena bagaimanapun, volume data di segala bidang akan terus bertambah secara signifikan.

“Kepakaran  Prof. Taufik semakin diperlukan di masa mendatang. Dan Unsyiah sangat beruntung  memiliki beliau yang kepakarannya tentang machine learning serta big data, sedikit banyak telah diinduksikan kepada seluruh mahasiswa kita,” ucap Rektor.

Lalu kepakaran Prof. Fitri Arnia juga sangat penting untuk memahami latar belakang sejarah dari semua kejadian hari ini. Dokumen kuno mengandung informasi penting di masa lalu yang dapat membantu manusia untuk lebih memahami sejarah sebelumnya.

Prof. Fitri Arnia berhasil mendigitalkan naskah-naskah kuno, membinerisasikannya serta mengaplikasikan sistem pengenalan karakter optic untuk proses rekognisinya. Beliau menawarkan penggunaan asumsi histogram multipeak untuk mengantisipasi noise dan keabuan dokumen-dokumen kuno tersebut.

Beliau juga menawarkan teknik baru untuk pengenalan karakter Jawi, yaitu menggunakan Algoritme Tree Root. Sistem algoritme ini tidak menggunakan perhitungan matematika yang rumit, tetapi menggunakan proses klasifikasi sederhana, dan membutuhkan lebih sedikit memori penyimpanan.

“Bidang kajian ini memiliki urgensi yang tinggi, terutama untuk Aceh yang konon memiliki sejarah luar biasa, namun belum dieksplorasi secara optimal menggunakan teknologi informasi. Hal ini dapat dimulai dengan merestorasi dokumen dan naskah kuno yang sudah tersedia,” ucap Rektor.

Sumber: unsyiah.ac.id