Universiti Managemen Terkemuka (The Eminent Management University) merupakan predikat yang disandang oleh Universiti Utara Malaysia (UUM). Terletak di wilayah paling utara Malaysia dekat dengan perbatasan negara tersebut dengan Thailand menjadi keunikan tersendiri bagi pemuda-pemudi yang haus ilmu. Struktur alam yang terdiri dari bukit-bukit dan hutan-hutan menjadikan universitas ini dijuluki dengan Universitas Rimba Hijau (Green Forest Univeristy). Begitulah tulisan yang ada di welcoming board beberapa meter setelah gerbang utama kampus tersebut.

Saya bersama tiga orang mahasiswi dari Jurusan Informatika Unsyiah mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Malaysia, tepatnya di wilayah Kesultanan Kedah pada semester ganjil tahun 2015 lalu. Universitas tujuan kami adalah UUM, di sana kami menghabiskan masa studi semester ke lima bersama mahasiswa-mahasiswa UUM lainnya yang berada di bawah School of Computing, College of Arts and Sciences (CAS). Program pertukaran ini terselenggara atas kerjasama Office of International Affairs (OIA) Unsyiah dan Persatuan Pelajar dan Alumni (PPA), CAS UUM di ranah konsorsium.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di universitas ini, kami telah dianggap sebagai mahasiswa internasional atau luar negara. Tahap-tahap pemeriksaan dan pengurusan administrasi menyambut kami di awal-awal masa orientasi. Pemeriksaan kesehatan lengkap di klinik kesehatan kampus, pengurusan visa belajar selama satu semester, asuransi kesehatan, dan registrasi ulang menjadi proses panjang, sehingga dapat diterima untuk studi di kampus yang sangat luas ini.

Hal yang menarik adalah kekaguman saya terhadap sistem yang ada pada Pusat Keshatan Universiti (PKU) kampus tersebut. Klinik universitas tersebut lebih layak disebut rumah sakit. Sistem yang telah teringtegrasi satu sama lain, membuat pasien nyaman dan terlayani. Pasien hanya melakukan sekali daftar, kemudian menunggu nomor dipanggil di layar televisi di depan bilik-bilik dokter yang berjumlah sekitar 10 bilik. Setelah diperiksa, jika ada obat yang harus diambil, maka pasien cukup menunggu di apotik sampai namanya dipanggil dan obat diberikan. Begitu juga saat pengecekan x-ray yang saya lakukan di laboratorium, hasil x-ray akan langsung ditampilkan di monitor dokter umum yang memeriksa saya di ruang yang berbeda. Patut diakui, pelayanan kesehatan umum dan gigi di klinik kampus tersebut sangat memadai dan berstandar internasional.

Sistem asrama menjadi andalan kampus tersebut untuk memfokuskan diri mahasiswanya dalam proses belajar mengajar. Terdapat sekitar 30,000 mahasiswa yang melakukan studi di UUM. Berdasarkan data dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) UUM, terdapat sekitar 600 mahasiswa Indonesia yang melakukan studi bachelor, master maupun doktoral di universitas tersebut. UUM juga banyak melakukan kerjasama dengan universitas-universitas di Indonesia untuk melakukan program double degree dan pertukaran. Selain itu, keberagaman suku dan bangsa sangat terlihat di sana. Mahasiswa-mahasiswa asing banyak yang berasal dari Timur Tengah, Somalia, Nigeria, Syiria, dsb., selain orang-orang Malaysia sendiri yang berasal dari suku India, Tiongkok dan Melayu.

Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Inggris. Semua materi, modul, slide presentasi dikemas dalam Bahasa Inggris. Bahkan bagi mahasiswa baru regular, lokal maupun asing, disyaratkan untuk lulus tes Bahasa Inggris berstandar nasional Malaysia. Kemudian di awal-awal kuliah, mahasiswa diharuskan mengambil matakuliah yang berhubungan dengan Bahasa Inggris, salah satunya English for Communication yang terdiri dari level I dan II. Dalam matakuliah ini, mahasiswa benar-benar dilatih dalam memahami Bahasa Inggris secara praktis dalam berkomunikasi. Selain itu, mahasiswa juga dilatih dengan materi-materi dasar seperti mindmapping, membuat slide presentasi, membaca buku dalam Bahasa Inggris, dll. Matakuliah ini termasuk matakuliah yang sangat sukar menurut pengakuan beberapa teman mahasiswa. Hal ini dikarenakan matakuliah ini menjadi kunci utama untuk berhasil lulus di matakuliah-matakuliah tingkat lanjut berdasarkan bidangnya masing-masing.

Jika di Banda Aceh TransKoetaradja tengah menjadi hal yang baru terutama bagi mahasiswa, sistem masstransport seperti ini telah lama diterapkan di kampus rintisan Perdana Menteri Tun Mahatir Mohammad ini. Dengan memakai sistem outsourcing, yaitu pihak ketiga dari salah satu perusahaan bus di Malaysia, mahasiswa diwajibkan membayar iuran bus per semester yang telah termasuk ke dalam tution fee setiap mahasiswa. Bus beroperasi sekitar 16 jam per hari mengantarkan mahasiswa dari lokasi asrama ke gedung-gedung perkuliahan maupun sebaliknya.

Selain itu, UUM juga sangat fokus kepada pembangunan infrastruktur olahraga bagi mahasiswanya. Terdapat hamparan padang olahraga golf yang bersertifikasi internasional, stadion yang cukup memadai dilengkapi runningtrack, arena go cart, kolam renang, kayuh sampan, dll. yang berada dalam satu komplek, sehingga tidak hanya civitas akademika UUM yang dapat menikmati fasilitas-fasilitas ini, kampus juga mengajak masyarakat untuk gemar berolahraga

Keadaan lingkungan yang hijau juga mendukung kampus ini untuk mengkampanyekan green campus. Hal ini dapat dilihat dari adanya danau buatan, kebun binatang mini yang dihuni oleh ostrich (burung onta) dan rusa. Tak hanya itu, terdapat juga monyet-monyet atau hewan primata yang liar dan bebas hidup bedampingan dengan mahasiswa di lingkungan kampus.

Kebersihan juga menjadi kunci utama untuk mencapai green campus. Menurut informasi yang saya dapatkan, terdapat sebanyak kurang lebih 6000 pegawai kebersihan yang bertanggung jawab terhadap seluruh kebersihan kampus baik di kawasan asrama maupun gedung-gedung perkuliahan. Mereka juga bekerja secara outsourcing, sehingga kampus dapat benar-benar menjamin kebersihan kampus yang dilaksanakan oleh pihak ketiga.

Satu hal yang unik di UUM jika dibandingkan dengan kampus-kampus yang ada di Indonesia adalah hari libur bagi mahasiswanya. Jumat dan Sabtu merupakan dua hari libur dalam satu pecan perkuliahan. Kesultanan Kedah masih sangat menerapkan syariat Islam yang kuat di wilayahnya, sehingga untuk semua lembaga yang ada di wilayahnya diterapkan aturan yang bernuansakan Islam juga. Keanehan mulai terasa saat berkomunikasi dengan teman-teman di Unsyiah ketika itu. Kami berkuliah di hari Minggu sedangkan teman-teman di Unsyiah menikmati akhir pekannya.

Sebenarnya masih banyak hal-hal positif lainnya yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari kampus yang baru berusia 31 tahun ini. Di usia yang relatif cukup muda ini, tidak menjadikan pembangunan yang lambat di semua sektor, sebaliknya bahkan memacu semangat untuk terus menciptakan insan-insan intelektual yang berkualitas dari kampus yang berkualitas. Jadi, kenapa kita tidak belajar dari Universitas Rimba Hijau?

Penulis : Muhammad Chaidir, Mahasiswa Informatika Angkatan 2013